Kamis, 22 Maret 2012

belajar


PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata “belajar”, belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Biasanya setiap hari di sekolah guru dan murid menyebutkan kata tersebut, sebagai contoh biasanya guru akan bertanya:”anak-anak di rumah belajar tidak?, atau murid-murid sering bilang: “Bu, kita akan belajar tentang materi apa hari ini?”, begitu juga orang tua dan anaknya di rumah pun sering menyebutkan kata belajar, bahkan di masyarakat pun kata belajar  digunakan. Kita sering menyebutkan kata beajar, tetapi apa sebenarnya defenisi dari belajar itu. Secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognetif (Muhibbin Syah, 2003, hal. 68)  
Sebagian orang menganggap bahwa belajar itu adalah untuk mendapatkan ilmu seperti, menghafal ayat Al-Qur’an merupakan belajar, menghafal perkalian belajar, hafal nama-nama hewan dalam Bahasa Inggris belajar, dan orang tua ketika anaknya bisa atau mampu dalam hal tersebut sangat bangga, sehingga dia berpendapat bahwa belajar anaknya berhasil sesuai apa yang diberikan dan diperintahkan oleh gurunya dari sekolah.
Ada juga yang beranggapan bahwa belajar sebagai latihan, di mana kita berlatih untuk mendapatkan sesuatu yang kita impikan dan harapan, misalnya anak belajar membaca untuk melatih agar dia bisa membaca dengan baik, anak berlatih menulis agar dia dapat menulis dengan baik atau anak belajar berhitung agar dia mampu untuk menghitung. Biasanya orang tua akan merasa senang dan juga puas jika anak mereka berhasil dalam hal membaca, menulis  dan berhitung tanpa mereka tahu apa tujuan dari bisanya anak mereka tersebut dalam membaca, menulis dan berhitung tersebut.
Untuk menjawab semua hal ini, maka dalam makalah yang penulis buat ini akan dijelaskan apa defenisi “belajar” menurut para ahli, tujuan belajar, bagaimana hasil dari proses belejar tersebut dan bentuk-bentuk belajar, namun defenisi belajar tidak sama dari setiap para ahli akan terdapat perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan yang pada intinya adalah sebagai “perubahan”.

















BELAJAR

A.    Defenisi Belajar
Dalam belajar individu menggunakan kemampuan pada ranah-ranah: (1) kognetif yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi; (2) afektif yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian/penentuan sikap, organisasi, dan pembentukan pola hidup, dan (3) psikomotorik yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan jasmani yang terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan, terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan dan kreatifitas. Orang dapat mengamati tingkah laku orang telah belajar setelah membandingkan sebelum belajar (Syaiful Sagala, 2011, hal. 12)
Defenisi belajar ini, para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berbeda atau berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Di bawah ini akan disebutkan beberapa defenisi belajar menurut para ahli sebagai berikut:
1.      Belajar Menurut Pandangan Skinner
Belajar menurut pandangan B.F Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1958) dalam bukunya Educational Psycology: The Teaching-Leaching Process, berpendppat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pernyataan ini diungkap dalam pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah: “.... a process of progressive behavior adaptation”. Berdasarkan eksperimennya, B.F Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforcer). (Muhibbin Syah, 2003, hal. 64).
Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar, maka responnya menurun. Jadi belajar merupaka suatu perubahan dalam kemungkinan atau peluang terjadinya respons.
Menurut Skinner dalam belajar ditemukan hal-hal berikut: (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar; (2) respons si pelajar, dan (3) Konsekwensi yang bersifat menggunakan respons tersebut, baik kensekwensinya sebagai hadiah atau hukuman. (Syaiful Sagala, 2011, hal. 14).
2.    Belajar Menurut Pandangan Robert M.Gagne
Belajar adalah suatu proses yang kompleks, menurut Robert M. Gagne (1970) belajar merupakan kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan oleh: (1) Stimulasi yang berasal dari lingkungan dan (2) proses kognetif yang dilakukan oleh pelajar. Dengan demikian dapat ditegaskan, belajar adalah seperangkat proses kognetif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi dan menjadi kapabilitas baru. Menurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen penting yakni kondisi ekternal, kondisi internal dan hasil belajar. (Syaiful Sagala, 2011, hal. 17)
3.    Belajar Menurut Pandangan Chaplin
Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi: “...acquisition af any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience” (Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah process of acquiring responses as a result of special practice (Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus). (Muhibbin Syah, 2003, hal. 65).
4.      Belajar Menurut Pandangan Cronbach
Cronbach (1960) dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology menyatakan bahwa Learning is shown by a change in behavior as a result of experience (belajar ditujukan oleh perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman). Defenisi ini menakankan pada perubahan, akan tetapi dijelaskan pula bahwa perubahan yang dimaksud adalah perubahan perilaku (Nyayu Khodijah, 2011, hal. 54).
5.      Belajar Menurut Pandangan Reber
Reber (1989) dalam kamusnya, Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam defenisi. Pertama, belajar adalah The process of acquiring knowledge (proses memperoleh pengetahuan). Kedua, belajar adalah A relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice (suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat (Muhibbin Syah, 2003, hal. 66).
6.    Belajar Menurut Pandangan Morgan dkk.
Morgan, dkk. (1984) memberikan defenisi mengenai belajar sebagai berikut:”Learning can be defined as any relative permanent change in behavior which occurs as result of practice or experience”. Hal yang muncul dalam defenisi Morgan ini adalah bahwa perubahan perilaku atau performance itu relatif permanen. juga disebutkan bahwa perubahan perilaku diakibatkan dari hasil belajar karena latihan (practice) atau karena pengalaman (experience). Pada pengertian latihan dibutuhkan usaha dari individu yang bersangkutan, sedangkan dari pengertian pengalaman usaha tersebut tidak tentu diperlukan. Ini mengandung arti bahwa dengan pengalaman seseorang atau individu dapat berubah perilakunya, disamping perubahan itu dapat disebabkan karena latihan (Bimo Walgito, 2004, hal. 167).
7.      Belajar Menurut Pandangan Hilgard dan Bower
Hilgard dan Bower (dalam Snelbecker, 1974) dalam buku mereka yang berjudul Theories of Learning berpendapat bahwa:” Learning is the process by which an activity orginates or is changed through reacting to an encountred situation, provided that the characteristics of the change in activity cannot be explained on the bassic of native response tendencies, maturation, or temporary states of the organism (e.g., fatigue, drugs, etc.).  Belajar adalah suatu proses dimana sebuah aktivitas dibentuk atau diubah melalui reaksi terhadap situasi yang dihadapi, yang mana karakteristik perubahan tersebut bukan disebabkan oleh kecenderungan respon alami, kematangan atau perubahan sementara karena sesuatu hal (misalnya kelelahan, obat-obatan, dan sebagainya). Defenisi ini menekankan bahwa belajar sebagai proses, bukan sebagai hasil seperti kebanyakan defenisi sebelumnya (Nyayu Khodijah, 2011, hal. 54-55)
8.        Belajar Menurut Sumandi Suryabrata
Sumandi Suryabrata (2002) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang memiliki tiga ciri, yaitu: (1) proses tersebut membawa perubahan baik aktual maupun potensial; (2) Perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkan kecakapannya baru, dan (3) Perubahan itu terjadi karena usaha dengan sengaja. Defenisi ini menekankan pada hasil belajar berupa perubahan pada diri seseorang (Nyayu Khodijah, 2011, hal. 56).

9.      Belajar Menurut Slameto
Slameto (1991), merumuskan pengertian tentang belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Rohmalina Wahab,2008, hal. 100)
10.  Belajar Menurut Biggs
Biggs (1991) dalam pendahuluan Teaching for Learning: The view from Cognetive Psychology  mendefenisakan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu: rumusan kuantitatif; rumusan institusional dan rumusan kualitatif. Dalam rumusan-rumusan ini, kata-kata seperti perubahan atau tingkah laku tidak lagi disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini sudah menjadi kebenaran umum yang diketahui semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan (Muhibbin Syah, 2003, hal. 67)

Dari defenisi di atas tentang belajar terdapat perbedaan pendapat antara para ahli, dan juga adanya persamaan, hal ini wajar dikarenakan adanya perbedaan titik pandang, dan situasi belajar antara yang satu dengan belajar yang lainnya. Namun pada dasarnya inti dari belajar apapun itu menggunakan istilah  “berubahan” atau “tingkah laku”. Jadi dari pendapat para ahli di atas dapat dikemukakan defenisi belajar. yaitu:
a)      Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku yang mengarah pada kebaikan.
b)      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
c)      Belajar merupakan aktivitas atau kegiatan yang kompleks
d)     Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku 

B.  Tujuan Belajar
Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu (Dalyono, 2007, hal. 48). Seorang siswa yang ingin mencapai cita-citanya tentu harus belajar dengan giat. Bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah, dalam masyarakat, lembaga pendidikan ekstrakulikuler dan sebagainya.
Belajar dapat didefenisikan,”Suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya. Dapat disimpulakan bahwa tujuan belajar adalah (1) belajar adalah suatu usaha; (2) belajar bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri antara  lain tingkah laku; (3) belajar bertujuan mengubah kebiasaan, dari yang buruk menjadi yang baik; (4) belajar bertujuan untuk mengubah sikap, dari negatif menjadi positif; (5) belajar dapat mengubah keterampilan; (6) belajar bertujuan menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu. (Dalyono, 2007, hal. 49-5)
Dari uraian di atas dapat diketahui belajar adalah kegiatan manusia yang sangat penting dan harus dilakukan selama hidup, karena melalui belajar dapat melakukan perbaikan dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan hidup. Dengan kata lain, melalui belajar dapat memperbaiki nasib, mencapai cita-cita yang didambakan. Karena itu, tidaak boleh lalai, jangan malas dan membuang waktu secara percuma, tetapi manfaatkan dengan seefektif mungkin, agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari (Anwar Bey Hasibuan, 1994, hal. 34).
Belajar terarah pada suatu tujuan. Untuk mencapai suatu tujuan itu, orang harus menentukan set belajar. Dengan set belajar yang ditemukan, orang memilih berbagai alternatif pilihan, barulah orang melaksanakan berbagai aktivitas untuk mencapai tujuan. Set belajar adalah arah perhatian dalam interaksi bertujuan (Wasty Soemanto, 2003, hal. 107).
Setelah membuat set belajar yang dilakukan selanjutnya adalah melaksanakan aktivitas belajar. Aktivitas belajar antara lain adalah: (1) mendengarkan; (2) memandang; (3) meraba, mencium dan mencicipi; (4) menulis dan mencatat; (5) membaca; (6) membuat ikhtsar atau ringkasan; (7) mengamati tabel-tabel, diagram dan bagan; (8) menyusun paper atau kertas kerja; (9) engingat; (10) berpikir; dan (11) latihan atau praktek.

C.    Ciri-Ciri perubahan Sebagai Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa (Dimyati dan Mudjiona, 1999, hal. 20).
Proses belajar merupakan jalan yang harus ditempuh oleh seorang pelajar atau mahasiswa untuk mengerti suatu hal yang sebelumnya tidak diketahui (Rooijakkers, 2008, hal. 14). Dibawah ini merupakan bagan proses belajar menurut Rooijakkers.












TIDAK TAHU
 






PROSES BELAJAR
1.       Motivasi
2.       Perhatian pada pelajaran
3.       Menerima dan Mengingat
4.       Reproduksi
5.       Generalisasi
6.       Melaksanakan latihan dan umpan balik.
 




 









                                                (Roijjakkers, 2008)
Tabel di atas membicarakan tentang proses belajar yang terjadi secara intern, yang terjadi dalam diri seseorang yang melakukan kegiatan belajar. Proses belajar terjadi dalam enam tahap dan tiap tahap ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jalannya proses interen.
Dari defenisi-defenisi belajar di atas, disebutkan bahwa tidak semua perubahan perilaku yang terjadi pada individu dapat dikatakan belajar. Menurut Ahmadi dan Supriyono (1991), suatu perubahan dapat dikatakan sebagai hasil belajar jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Terjadi secara sadar
2.      Bersifat fungsional
3.      Bersifat aktif dan positif
4.      Bukan bersifat sementara
5.      Bertujuan dan Terarah
6.      Mencakup seluruh aspek tingkah laku. (Nyayu Khodijah, 2011, hal. 57)

Slameto (2010: 2) mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.  Berikut ini ciri-ciri perubahan tingkah laku menurut Slameto (2010:2).
1.      Perubahan terjadi secara sadar.
2.      Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.
3.       Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4.      Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
5.      Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
6.      Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku pada diri seseorang dan mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi manusia. Di dalam belajar terdapat prinsip prinsip belajar yang harus diperhatikan, Dalyono (2005: 51-54) mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut.
1)      Kematangan jasmani dan rohani; Salah satu prinsip utama belajara adalah harus mencapai kematangan jasmani dan rohani sesuai dengan tingkatan yang dipelajarinya. Kematangan jasmani yaitu setelah sampai pada batas minimal umur serta kondisi fisiknya telah kuat untuk melakukan kegiatan belajar. Sedangkan kematangan rohani artinya telah memiliki kemampuan secara psikologis untuk melakukan kegiatan belajar.
2)      Memiliki kesiapan; Setiap orang yang hendak belajar harus memiliki kesiapan yakni dengan kemampuan yang cukup, baik fisik, mental maupun perlengkapan belajar.
3)      Memahami tujuan; Setiap orang yang belajar harus memahami tujuannya, kemana arah tujuan itu dan apa manfaat bagi dirinya. Prinsip ini sangat penting dimiliki oleh orang belajar agar proses yang dilakukannya dapat selesai dan berhasil.
4)      Memiliki kesungguhan; Orang yang belajar harus memiliki kesungguhan untuk melaksanakannya. Belajar tanpa kesungguhan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan.
5)        Ulangan dan latihan; Prinsip yang tidak kalah pentingnya adalah ulangan dan latihan. Sesuatu yang dipelajari perlu diulang agar meresap dalam otak, sehingga dikuasai sepenuhnya dan sukar dilupakan.
Salah satu indikator tercapai atau tidaknya suatu proses pembelajaran adalah dengan melihat hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar merupakan cerminan tingkat keberhasilan atau pencapaian tujuan dari proses belajar yang telah dilaksanakan yang pada puncaknya diakhiri dengan suatu evaluasi. Hasil belajar diartikan sebagai hasil ahir pengambilan keputusan tentang tinggi rendahnya nilai siswa selama mengikuti proses belajar mengajar, pembelajaran dikatakan berhasil jika tingkat pengetahuan siswa bertambah dari hasil sebelumnya (Djamarah, 2000: 25).
Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang dicapai oleh murid dalam mengikuti program belajar mengajar, sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 3) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Sukmadinata (2007: 102) mengatakan hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Sedangkan hasil belajar menurut Arikunto (2001:63) sebagai hasil yang telah dicapai seseorang setelah mengalami proses belajar dengan terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan.
Hasil belajar dapat dikatakan tuntas apabila telah memenuhi kriteria ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh masing-masing guru mata pelajaran. Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yakni untuk bermacam-macam aturan terdapat apa yang telah dicapai oleh murid, misalnya ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan selama pelajaran berlangsung, tes ahir catur wulan dan sebagainya.

D.    Bentuk-Bentuk Belajar
Menurut Muhibbin Syah, bentuk-bentuk belajar yang umum dijumpai dalam proses pembelajaran antara lain adalah:
1.      Belajar abstrak; ialah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata.
2.      Belajar keterampilan; adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf. Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu.
3.      Belajar Sosial; adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial.
4.      Belajar Pemecahan Masalah; adalah belajar menggunakan metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognetif untuk memecahkan masalah secara rasioanal, lugas, dan tuntas
5.      Belajar rasioanal; ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan sistematis. Tujuannya ialah untuk memperoleh berbagai kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
6.      Belajar kebiasaan; adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri tauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras secara kontekstual, serta selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku.
7.      Belajar apersiasi; adalah belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah afektif yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apersiasi sastra, apersiasi musik, dan sebagainya.
8.      Belajar Pengetahuan; ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhada objek pengetahhuan tertentu. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya.

KESIMPULAN
Manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dalam keadaan tidak berilmu pengetahuan yang pada dasarnya memiliki potensi yang diberikan Allah baik yang bersifat jasmaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dirinya. Untuk merubah dari yang buruk menjadi baik, dari negatif menjadi positif hanya diperlukan kata”belajar”.
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku yang mengarah pada kebaikan atau belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dapat didefenisikan juga belajar merupakan aktivitas atau kegiatan yang kompleks daan biasanya sering dimengerti bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku.
  Tujuan belajar adalah (1) belajar adalah suatu usaha; (2) belajar bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri antara  lain tingkah laku; (3) belajar bertujuan mengubah kebiasaan, dari yang buruk menjadi yang baik; (4) belajar bertujuan untuk mengubah sikap, dari negatif menjadi positif; (5) belajar dapat mengubah keterampilan; (6) belajar bertujuan menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu.
Suatu perubahan dapat dikatakan sebagai hasil belajar jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Terjadi secara sadar, bersifat fungsional bersifat aktif dan positif, bukan bersifat sementara, bertujuan dan terarah syang mencakup seluruh aspek tingkah laku.

DAFTAR PUSTAKA


Dimyati dan Mudjiono, 1999. Belajar dan Pembelajaran, Cet I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, PT Rineka Cipta, Jakarta

Dalyono, 2007. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta

Khodijah, Nyayu, 2011. Psikologi Penididikan, CV. Grafika Telindo, Palembang.

Rooijakkers, 2008. Mengajar Dengan Sukses. Cet Ke-13, Grasindo, Jakarta

Rusli, Ris’an, dkk., 2010. Panduan Penulisan Karya Ilmiah. Cet Ke-3, Program Psacasarjana IAIN Raden Fatah Palembang

Sagala, Syaiful, 2011. Konsep dan Makna pembelajaran. Cet Ke-9, Afabeta, Bandung.

Silberman, Melvin L, 2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Cet. III, Nusa Media, Bandung

Soemanto, Wasty, 2003. Psikologi Pendidikan. Cet Ke-4, Rineka Cipta, Jakarta

Syah, Muhibbin, 2003. Psikologi Belajar. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Wahab, Rohmalina, 2008. Psikologi Pendidikan. IAIN Reden Fatah Press, Palembang.

Walgito, Bimo, 2004. Pengantar Psikologi Umum. Andi, Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar